36. ASY SYAKUR (Dzat Yang Maha Mensyukuri) Apabila kita mau bersyukur kepada Allah Ta’ala atas segala nikmat yang telah Dia berikan, maka Allah Ta’ala akan membalas dengan berlipat ganda baik didunia maupun diakhirat. Didunia Allah Ta'ala akan memberikan karunia-karuniaNya dan diakhirat Allah Ta'ala akan memberikan syurga yang penuh kenikmatan. Dengan kata lain Allah Ta'ala sangat senang kepada hamba-hambaNya yang mau berbuat baik walaupun sangat kecil, sehingga Dia akan membalasnya dengan berlipat ganda. Karena Allah Ta’ala ridho memberi banyak dan ridho menerima sedikit. Hal ini dilakukan oleh Allah Ta’ala karena Dia tidak ingin mengecewakan hamba-hambaNya yang telah melakukan kebaikan-kebaikan. Rasulullah SAW bersabda bahwa seseorang yang masuk syurga bukan karena amalnya, tetapi karena rahmat Allah Ta'ala, termasuk beliau sendiri. Hal ini karena Allah Ta'ala sangat senang dan sangat menghargai kebaikan yang dilakukan hamba-hambaNya. Yang dinamakan syukur adalah mengakui bahwa apapun yang kita terima datangnya dari Allah Ta’ala atau pemberian Allah Ta’ala. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mau mengakui bahwa apapun yang dapat dia terima adalah pemberian Allah Ta’ala, tetapi dia merasa atas kemampuan dan kepandaian dirinya sendiri. Padahal Allah Ta'ala hanya ingin diakui keberadaan-Nya oleh hamba-hambaNya. Didalam Al Qur’an Allah Ta'ala sering berfirman dengan mengatakan “Kami”. Sebagai contohnya firman Allah Ta'ala Qs. 15/9. “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. Disini Allah Ta'ala tidak mengatakan Aku, tetapi mengatakan Kami. Padahal sebetulnya yang menurunkan Al Qur’an adalah Allah Ta'ala. Hal ini karena Allah Ta'ala sangat menghargai pekerjaan hambaNya berupa Malaikat yang telah menjadi perantaraNya menyampaikan Al Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW. Padahal jika Allah Ta'ala menghendaki, Dia sanggup berbuat apa yang dikehendaki-Nya tanpa pertolongan siapapun. Didalam Al Qur’an Surat Al Ahzab (33) Ayat : 56 Allah Ta'ala berfirman : “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. Hal ini merupakan ungkapan terima kasih yang sangat besar kepada RasulNya Muhammad SAW yang telah mengajak manusia untuk beriman dan beribadah hanya kepada Allah Ta'ala. Padahal Rasulullah SAW bisa melakukan semua itu semata-mata karena izin dan pertolongan Allah Ta'ala. Kalau Allah Ta'ala saja demikian, kenapa kita tidak mau meneladani-Nya? Kenapa pada saat berhasil kita mengatakan “aku” tetapi pada saat gagal menyalahkan orang lain? Padahal keberhasilan yang kita peroleh pasti ada bantuan dari orang lain. Syukur ada dua : 1. Paling minimal adalah meyakini datangnya dari Allah Ta’ala. 2. Menggunakannya sesuai dengan syareat yang telah ditentukan Allah Ta'ala dan RasulNya. Sedangkan cara menumbuhkan rasa syukur adalah meyakini dan menyadari kalimat “LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAHIL ‘ALIYYIL ADZIIM (Tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah yang maha agung)”. Akan tetapi sebaliknya apabila kita tidak mensyukuri segala pemberian-pemberian Allah, serta tidak mau memohon ampun dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya azab Allah sangat pedih. Surat Ibrahim (14) : 7 7. Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". Oleh karena itu dalam hidup ini selalulah berfikir bagaimana bisa melakukan sesuatu untuk orang lain, jangan berfikir apa yang orang lain bisa lakukan untuk kita. Inilah salah satu cara untuk memperoleh Asy Syakurnya Allah. Dengan kata lain apabila kita ingin difikirkan dan diurusi oleh Allah maka berfikirlah untuk kemashlahatan orang lain. Akan tetapi apabila kita hanya berfikir untuk diri sendiri, maka jangan berharap akan difikirkan dan diurusi oleh Allah. Dalam satu keterangan dijelaskan : “Apabila ingin dicintai Allah zuhudlah terhadap dunia, dan apabila ingin dicintai manusia, maka zuhudlah terhadap apa yang dimiliki orang lain (manusia)”. Allah akan memberikan ganjaran berupa karunia dan rahmat kepada orang-orang yang mau melakukan keta’atan atas dasar imannya kepada Allah. Padahal seseorang bisa melakukan keta’atan adalah karena izin dan pertolonganNya. Sebagai contohnya kita bisa bersedekah karena Dia yang memberi kita rizki. Begitu juga yang keta’atan yang lainnya. Oleh sebab itu jangan sekali-kali kita ragu dalam melakukan keta’atan. Murnikanlah keta’atan kita hanya kepadaNya. Karena sangat bodoh bagi orang-orang yang melakukan keta’atan dengan niat riya’ kepada manusia. Dalam hidup ini banyak sekali orang-orang yang melakukan kebaikan hanya mengharapkan agar orang lain juga berbuat baik kepadanya. Padahal tidak ada jaminan kita berbuat baik kepada orang lain dan orang lainpun akan berbuat baik kepada kita. Oleh sebab itu jangan sekali-kali kita melakukan kebaikan hanya mengharapkan penilaian atau balasan dari manusia. Karena didunia ini hanya mendapat pujian-pujian tetapi diakhirat tidak memperoleh apa-apa. Akan tetapi kenapa kita sering melakukan kebaikan tidak murni karena Allah? Berarti kita melepaskan sesuatu yang sangat besar tetapi mengejar sesuatu yang sangat kecil. Ingat..!? kita ini hanyalah seorang hamba. Jangan sekali-kali menanyakan gaji (bayaran) kepada Allah. Lakukan saja perintah dan jauhi laranganNya dan yakinlah bahwa Allah itu As Syakur. Jangan sampai kita melakukan keta’atan hanya mengharapkan bayaran didunia, karena bayaran nanti diakhirat sungguh jauh lebih baik. Apabila Allah berdiri dengan keadilanNya maka tidak ada satupun dari kebaikan yang kita lakukan bisa diterima. Karena kita melakukan keta’atan masih penuh dengan kekurangan dan sangat jauh dari kesempurnaan. Akan tetapi Allah itu As Syakur. Yang penting kita melakukan keta’atan dengan niat yang benar karena Allah dan berusaha dengan sungguh-sungguh mempersembahkan yang terbaik untuk Allah. Oleh sebab itu Abu Nawas berdoa : “Yaa Allah, apabila aku Engkau masukkan ke dalam Syurga rasanya tidak pantas. Akan tetapi kalau Engkau masukkan Neraka aku tidak sanggup”. Inilah yang namanya harap dan cemas. Apabila berharap saja membuat kita tidak tahu diri tetapi apabila cemas saja akan membuat kita putus asa. Oleh sebab itu kita dituntut untuk bersungguh-sungguh, karena inilah yang Allah nilai. Rasulullah bersabda : “Man Jadda Wajada”. Maksudnya apabila bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan. Didalam melakukan kebaikan ingatlah bahwa Allah itu As Syakur sehingga kita bisa ikhlas. Jangan sekali-kali melakukan kebaikan karena manusia yang menyebabkan kita malas (mau bekerja kalau dilihat oleh manusia). Makanya bagi orang-orang yang faham dengan As Syakur tidak pernah minta bayaran didunia, karena ia yakin bahwa segala kebaikan manfatnya kembali kepada dirinya sendiri dan bayaran akhirat jauh lebih baik. Apabila kita melakukan kebaikan hanya mengharapkan balasan didunia saja maka diakhirat tidak memperoleh apa-apa. Walaupun keinginan kita tersebut hanya didalam hati dan tidak kita ucapkan dengan lisan. Surat Al Baqarah (2) : 200 200. Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Ingat..!? bahwa keinginan seseorang itulah yang melahirkan do’a. Apabila seseorang menginginkan dunia maka do’a-do’a yang ia panjatkan hanya meminta dunia. Padahal barang siapa yang menghendaki dunia akan Allah masukkan kedalam Neraka. Surat Al Israa' (17) : 18 18. Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam Keadaan tercela dan terusir. A. Sisi Tafakkurnya Sudah begitu banyak nikmat yang telah diberikan Allah Ta’ala kepada kita. Walaupun kita melakukan kebaikan sekecil apapun, maka Allah Ta'ala telah membalasnya dengan berlipat ganda. Akan tetapi kita selalu merasakan bahwasannya Allah Ta'ala masih kurang memberikan segala sesuatu kepada kita, sehingga kita tidak pandai mensyukuri apa-apa yang telah diberikan Allah Ta'ala kepada diri kita. B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah ya Tuhan kami, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang haus akan beramal. C. Sikap Orang Beriman Orang-orang yang beriman sangat yakin bahwa Allah Ta'ala pasti akan membalas kebaikan hamba-hambaNya dengan berlipat ganda walaupun hanya sedikit. Dan dia sangat yakin bahwa Allah Ta'ala tidak pernah ingkar janji, sehingga dia tidak pernah ragu untuk melakukan kebaikan-kebaikan. D. Sikap Orang Bertaqwa Orang-orang yang bertaqwa sangat menginginkan agar Allah Ta'ala senang (ridho) kepadanya, sehingga dia akan bersungguh-sungguh untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Karena Allah Ta'ala sangat senang kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan disamping melakukan kebaikan-kebaikan, dia juga menghindari kejahatan-kejahatan. Karena Allah Ta'ala tidak senang dengan orang-orang yang berbuat kejahatan. Dengan kata lain dia akan melakukan apapun yang bisa membuat Allah Ta'ala senang. Apakah dengan cara melakukan amal-amal ibadah dan amal-amal sholeh atau dengan cara menghindari perbuatan-perbuatan dosa. Inilah keuntungan orang-orang yang beriman kepada Allah Ta’ala dan mau bertaqwa kepadaNya, yaitu menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya serta menggunakan pemberian-pemberian Allah Ta’ala untuk melakukan amal-amal sholeh. Karena mereka akan mendapat balasan didunia dan balasan diakhirat dengan yang lebih baik lagi yaitu syurga yang penuh kenikmatan. Sedangkan bagi orang-orang yang tidak beriman kepada Allah Ta’ala, apabila dia melakukan kebaikan-kebaikan, maka dia akan dibalas oleh Allah Ta’ala dengan kebaikan pula didunia ini saja. Akan tetapi diakhirat kelak dia tidak mendapatkan balasan apa-apa melainkan neraka. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, berikanlah kepada kami kesempatan untuk dapat beramal serta bantulah kami didalam melaksanakannya. F. Sikap Orang Bertawakkal Orang-orang yang bertawakkal apabila melakukan kebaikan yang dia inginkan bukan ganjarannya, tetapi yang dia inginkan adalah Allah Ta'ala senang kepadanya. Karena dia yakin bahwa Allah Ta'ala tidak pernah mengingkari janji, sehingga masalah ganjaran dia serahkan sepenuhnya hanya kepada Allah Ta'ala. Yang penting dia telah berbuat baik dengan niat yang benar dan dilakukan dengan syareat yang benar pula. Dia tidak pernah berfikir untuk mengharapkan balasan di dunia, karena balasan didunia akan mengurangi balasannya diakhirat. G. Sikap Orang Mukhlis Dia akan menerima dengan ikhlas apapun yang diberikan oleh Allah Ta'ala kepadanya. “Terserah Engkau ya Allah, yang penting Engkau senang”. Akan tetapi bagi orang-orang yang menghendaki kehidupan duniawi, apabila sedikit saja melakukan kebaikan, dia mengharapkan upah (balasan) dari Allah Ta'ala didunia. Padahal andaikata semua kebaikannya dibalas didunia, niscaya diakhirat nanti dia tidak memperoleh kebaikan apa-apa. Didalam hadits Qudsi dijelaskan tentang dialog antara Nabi Musa As dengan Allah Ta'ala. Allah Ta'ala berfirman : “Wahai Musa, Aku kehausan tetapi engkau tidak mau memberi Aku minum”. Tanya Musa : “Mana mungkin Engkau haus ya Allah”. Allah Ta'ala berfirman : “Sesungguhnya ada hamba-hambaKu yang kehausan. Apabila engkau memberinya minum, sesungguhnya Aku ada disana”. Allah Ta'ala berfirman : “Wahai Musa, Aku kelaparan tetapi engkau tidak memberi Aku makan”. Tanya Musa : “Mana mungkin Engkau kelaparan ya Allah”. Firman Allah Ta'ala : “Sesungguhnya ada hamba-hambaKu yang kelaparan. Apabila engkau memberinya makan, sesungguhnya Aku ada disana”. Firman Allah Ta'ala : “Wahai Musa, Aku sakit tetapi engkau tidak menjenguk-Ku”. Tanya Musa : “Mana mungkin Engkau sakit ya Allah”. Firman Allah Ta'ala : “Sesungguhnya ada hamba-hambaKu yang sakit. Apabila engkau menjenguknya, sesungguhnya Aku ada disana”. Firman Allah Ta'ala : “Wahai Musa, Aku kekurangan tetapi engkau tidak membantu-Ku”. Tanya Musa : “Mana mungkin Engkau kekurangan ya Allah”. Firman Allah Ta'ala : “Sesungguhnya ada hamba-hambaKu yang kekurangan. Apabila engkau membantunya, sesungguhnya Aku ada disana”. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ As Syakur Apabila sudah menjadi kholifah, maka ia mudah sekali bersyukur kepada Allah Ta'ala dan berterima kasih kepada sesama manusia yang telah menjadi perantara Allah Ta'ala. Sedikit saja kebaikan yang ia terima, ia ingin membalas sebanyak-banyaknya kebaikan itu. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ As Syakur Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu bagi manusia yang akan melakukan kebaikan, agar mereka dapat melihat dan merasakan begitu mudahnya dapat melakukan sebuah kebaikan, serta melihat balasan yang Engkau berikan terhadap kebaikan yang mereka lakukan.